Fatwa-Fatwa dan Pendapat Ulama Besar Seputar Maulid Nabi

Oleh : Ats-Tsauriy (Bangkalan)

Ikhwah fillah yang dirahmati Allah. Ulama adalah penjaga agama ini, dari mereka dan kitab-kitab mereka kita bisa mengetahui dan memahami agama yang mulya ini, sebab mereka adalah pewaris para Nabi yang dalam setiap kurun selalu ada sebagai pembaharu (mujaddid) yang memiliki otoritas untuk memberikan penjelasan kepada kita dan meng-ijtihadkan hukum dan permasalahan baru yang memang pada masa sebelumnya belum dikenal. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah menjelaskan melalui sabda beliau bahwa ulama mujaddid akan selalu diutus oleh Allah pada setiap akhir masa 100 tahun,

“Sungguh Allah akan mengutus untuk umat ini setiap akhir masa seratus tahun orang yang akan memperbaharui agamanya”

Didalam kitab ‘Aunul Ma’bud karangan Al-’Allamah Abu At-Thayyib Muhammad Syams Al-Haqq bin Amir bin ‘Ali bin Maqsud ‘Ali As-Shiddiq Al-‘Adhim Abadi, kitab yang merupakan syarah dari kitab Sunan Abu Daud karangan Al-Imam Abu Daud As-Sajistaniy, didalam kitab tersebut dituturkan bahwa Al-Imam Ahmad bin Hanbal (164 H – 241 H) meriwayatkan hadits senada dengan hadits diatas namun dengan redaksi berbeda,

“Sungguh Allah ta’ala telah menetapkan pada setiap akhir masa seratus tahun orang yang mengajarkan manusia tentang agama mereka”

Hadis diatas jelas menandakan adanya legitimasi dan legalitas bagi umat untuk mendapatkan penjelasan tentang agama dari para ulama pewaris Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam yang bukan hanya dari kalangan shahabat beliau saja atau para ulama salaf saja, tetapi juga para ulama pada tiap-tiap masa yang diakui keluasan ilmunya. Artinya, memahami al-Qur’an dan hadits (sunnah) secara langsung tanpa melalui pemahaman dan penjelasan para ulama tersebut adalah tindakan yang bukan saja tidak bijaksana, tetapi juga merupakan sebuah keteledoran yang dapat berakibat terjerumus ke dalam kesesatan. Itulah rahasia kenapa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda demikian, karena beliau menyadari betul keadaan umatnya di masa belakangan yang sangat jauh jaraknya dari masa hidup beliau dan sangat berbeda kualitas keimanannya dibandingkan para shahabat atau para tabi’in. Dan kita yakin, hadits itu pasti dilatarbelakangi oleh wahyu Allah, dan ini bisa dikatakan sebagai salah satu rencana-Nya bagi kelestarian Islam di masa depan. Otoritas penjelasan ulama di setiap generasi dalam berijtihad, legalitasnya tidak hanya ditunjukkan oleh dalil di atas, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam secara umum menyebut mereka sebagai pewaris Nabi.

Jikalau ada yang bertanya, ulama yang manakah yang termasuk kategori mujaddid atau yang pantas mendapat label “pewaris para Nabi” itu ? Nama-nama para Mujaddid dan para Ulama yang terkenal seperti berikut ini dapat dikategorikan ke dalam golongan “pewaris para Nabi” sebagaimana pengakuan umat terhadap keutamaan mereka, yaitu : Khalifah Umar bin Abdul Aziz (Mujaddid abad ke-I), Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i (Mujaddid abad ke-II), Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abul Hasan Asy’ari, Imam Isfarayini, Imam Rafi’i, Imam Abul-‘Abbas bin Suraij (Mujaddid abad ke-III), Imam Sahl Ash-Sha’luki (mujaddid abad ke-IV), Imam Ghazali (mujaddid abad ke-V), Imam Fakhruddin Ar-Razi (mujaddid abad ke-VI), Imam Nawawi (mujaddid abad ke-VII), dan para ulama lain yang mengikuti jejak mereka ilaa yaumil Qiyamah. Mujaddid lainnya seperti Imam Suyuthiy, Imam Ramli, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalaniy, Imam Al-Baqilaniy dan lain sebagainya.


FATWA DAN PENDAPAT ULAMA BESAR SEPUTAR MAULID NABI

Berikut ini beberapa pendapat dan fatwa dari ulama kaum Muslimin yang kami kutip dari kitab-kitab ulama muktabar, namun masih banyak lagi yang belum sempat kami kutipkan.

Pendapat Al-Imam Hasan Al-Bashriy Qaddasallahu Sirrah (wafat 116 H) yaitu generasi salafush shaleh dan ayah beliau adalah pelayan Sahabat Zaid bin Tsabit (penulis wahyu). Imam Hasan Al-Bashriy pernah berjumpa sekitar 100 sahabat Nabi. Menurut Qatadah, Imam Hasan paling tahu tentang halal dan haram, pendapatnya seperti Sahabat Umar bin Khatththab radliyallahu ‘anh, menjadi rujukan dalam bertanya. Menurut Hisyam bin Hasan, Imam Hasan Al-Bashriy adalah paling pandai dimasanya dan menurut Abu Umar bin al-‘Ala’, orang yang sangat fashih. Beliau mengatakan tentang betapa istimewanya Maulid Nabi,

“Seandainya aku memiliki emas seumpama gunung Uhud, niscaya aku akan menafkahkannya (semuanya) kepada orang yang membacakan Maulid ar-Rasul”. [1]

Pendapat Al-Imam Ma’aruf Al-Kharkhiy Qaddasallahu Sirrah (wafat 200 H), beliau juga termasuk generasi salafush shaleh yang alim, zuhud dan terkenal dikalangan fuqaha’ sebagai orang yang fakih. Beliau mengungkap peringatan Maulid Nabi yang terjadi dimasa beliau, keistimewaan serta balasan bagi orang yang memperingati Maulid Nabi,

“Al-Imam Ma’aruf Al-Kurkhiy Qaddasallahu sirrah berkata, “Barangsiapa menyajikan makanan untuk pembacaan Maulid ar-Rasul, mengumpulkan saudara-saudaranya, menghidupkan pelita dan memakai pakaian yang baru dan wangi-wangian dan menjadikannya untuk mengagungkan kelahirannya (Maulid Nabi), maka Allah akan membangkitkan pada hari qiyamat beserta golongan yang utama dari Nabi-Nabi , dan ditempatkan pada tempat (derajat) yang tinggi”. [2]

Pendapat Al-Imam Agung Nashirus Sunnah Asy-Syafi’i Rahimahullah (wafat 204 H). Beliau menuturkan bahwa peringatan Maulid Nabi dilakukan dengan berjamaah dan disediakan makanan sebagai rasa cinta kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, serta beliau juga menuturkan keutamaan orang yang memperingatinya,

“Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengumpulkan orang untuk melaksanakan perayaan Maulid Nabi karena kecintaan (ikhwanan) secara berjama’ah dengan menyediakan makanan dan berlaku baik, niscaya Allah bangkitkan di hari kiamat beserta para ahli kebenaran, syuhada dan para shalihin”. [3]

Pendapat Al-‘Arif Billah Al-Imam As-Sirriy As-Saqathiy Qaddasallahu Sirrah (wafat 257 H). Termasuk generasi salafush shaleh yaitu generasi tabiut tabi’in, seorang yang sangat berpendirian teguh, wara, sangat alim dan ahli ilmu tauhid. Beliau mengungkapkan keutamaan memperingati Maulid Nabi karena kecintaan kepada Rasulullah dan kelak akan bersama dengan Rasulullah,

“Imam As-Sirry As-Saqathiy berkata, “Barangsiapa yang menyediakan tempat untuk dibacakan Maulid Nabi, maka sungguh dia menghendaki “Raudhah (taman)” dari taman-taman surga, karena sesungguhnya tiada dia menghendaki tempat itu melainkan karena cintanya kepada Rasul. Dan sungguh Rasul bersabda : “Barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku didalam surga”. [4]

Pendapat Al-Imam Junaid Al-Baghdadiy Rahimahullah (wafat 297 H), masih termasuk generasi shalafuh shaleh. Beliau menuturkan beruntungnya keimanan seseorang yang menghadiri Maulid Nabi,

“Imam Junaid al-Baghdadiy rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menghadiri Maulid ar-Rasul dan mengagungkannya (Rasulullah), maka dia beruntung dengan keimanannya”. [5]

Pendapat Al-Imam Ibnu Jauziy Rahimahullah, beliau menuturkan tentang keutamaan Maulid Nabi sebagai berikut,

“Al-Imam Ibnu Jauziy Rahimahullah berkata, “Diantara keistimewaan Maulid Nabi adalah keadaan aman (pencegah mushibah) pada tahun itu, kabar gembira serta segala kebutuhan dan keinginan terpenuhi”. [6]

Pendapat Al-Imam Abu Syamah Rahimahullah (wafat 655 H). Beliau ulama agung bermadzhab Syafi’i dan merupakan guru besar dariAl-Imam Al-Hujjah Al-Hafidz Asy-Syekhul Islam An-Nawawiy Ad-Damasyqiy Asy-Syafi’I Rahimahullah. Al-Imam Abu Syamah menuturkan,

“Dan sebagus-bagusnya apa yang diada-adakan pada masa sekarang ini yaitu apa yang dikerjakan (rayakan) setiap tahun dihari kelahiran (Maulid) Nabi dengan bershadaqah, mengerjakan yang ma’ruf, menampakkan rasa kegembiraan, maka sesungguhnya yang demikian itu didalamnya ada kebaikan hingga para fuqara’ membaca sya’ir dengan rasa cinta kepada Nabi, mengagungkan beliau, dan bersyukur kepada Allah atas perkara dimana dengan (kelahiran tersebut) menjadi sebab adanya Rasul-nya yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam”. [7]

Pendapat Al-Imam Al-Muhaddits Al-Hafidz Al-Musnid Al-Jami’ Abul Khair Syamsuddin Muhammad Ibnu Abdullah Al-Jazariy Asy-Syafi’i (wafat 660 H). Beliau adalah guru dari para Qurra’ (Ahli baca Al-Qur’an) dan Imam Qira’at pada zamannya. Beliau memiliki karya Maulid yang masih berupa manuskrip (naskah tulisan tangan) yang berjudul “ ‘Arfut Ta’rif bi Al-Maulidi Asy-Syarif”. Beliau mengatakan bahwa orang yang memperingati Maulid Nabi sangat pantas untuk menampati surga yang penuh kenikmatan,

“Maka jika Abu Lahab yang kafir yang diturunkan ayat al-Qur’an untuk mencelanya masih diberi ganjaran kebaikan didalam neraka karena bergembira pada malam Maulid Nabi, lantas bagaimana dengan seorang Muslim yang mentauhidkan Allah, yang merupakan umat dari Nabi yang senang dengan kelahiran Beliau dan menafkahkan apa yang dia mampu demi kecintaannya kepada Nabi. Demi Allah, sesungguhnya yang pantas bagi mereka berupa balasan dari Allah yang Maha Pemurah adalah memasukkan mereka dengan keutamannya kedalam surga yang penuh kenikmatan”. [8]

Pendapat Al-Imam Yafi’i Al-Yamaniy Rahimahullah (wafat 768 H) turut menuturkan keutamaan Maulid Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam,

“Dan berkata Imam Al-Yafi’iy Al-Yamani : “Barangsiapa yang mengumulkan saudara-saudaranya untuk (merayakan) Maulid Nabi, menyajikan makanan, beramal yang baik dan menjadikannya untuk pembacaan Maulid ar-Rasul, maka Allah akan membangkitkan pada hari Kiamat bersama para Shadiqin, Syuhada, Shalihin dan menempatkannya pada tempat yang tinggi”. [9]

Pendapat Al-Hafidz Al-Imam Al-Muhaddits Syamsuddin bin Nashiruddin Ad-Damasyqiy (777 H – 842 H) yang telah mengarang kitab Maulid, diantaranya kitab Jami’ul Atsar fi Maulidin Nabiyyil Mukhtar (terdiri dari 3 jilid), Al-Lafdzur Roiq fi Maulidi Khayril Khalaiq (bentuknya ringkas), Mauridush Shadi fi Maulidil Had. Beliau mengatakan (dalam sebuah syair),

“Jika orang kafir yang telah datang (tertera) celaan baginya (yakni) “dan celakalah kedua tangannya didalam neraka Jahannam kekal didalamnya” ; “Telah tiba pada (setiap) hari senin untuk selamanya diringankan (siksa) darinya karena bergembira ke (kelahiran) Ahmad ; “lantas bagaimanakah dugaan kita terhadap seorang hamba yang sepanjang usia, karena (kelahiran) Ahmad, lantas ia selalu bergembira dan tauhid menyertai kematiannya ?” [10]

Fatwa Al-Imam Asy-Syeikhul Islam Al-Hafidz Abu Al-Fadhl Ahmad Ibnu Hajar Al-Asqalaniy (773 H – 852H), yang telah mensyarah kitab monumental Imam Bukhari (Shahih Bukhari), dan beliau beri nama dengan kitabnya tersebut dengan nama Fathul Bari ‘alaa Shahih Bukhari. Beliau memfatwakan bahwa amal Maulid termasuk ke dalam bid’ah Hasanah (perkara baru yang bagus) dan beliau juga mendapati dasar syara’ yang sangat terang mengenai peringatan Maulid Nabi,

“Asal amal Maulid adalah bid’ah, tidak pernah ada perkataan (perbincangan) dari salafush shaleh dari kurun ke tiga, dan akan tetapi bersamanya mencakup (mengandung) kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Maka barangsiapa yang mengambil kebaikan-kebaikannya pada amal Maulid dan menjauhi keburukannya maka itulah bid’ah Hasanah, dan jika tidak (menjauhi keburukannya) maka tidak (bukan bid’ah Hasanah)”. [11]

Lebih lanjut lagi, beliau memfatwakan dasar yang sangat jelas tentang peringatan Maulid Nabi,

“Dan sungguh telah jelas bagiku bahwa apa yang dikeluarkan (diriwayatkan) atas asal penetapan (hukum Maulid), sebagaimana yang ditetapkan didalam Ash-Shahihayn bahwa sesungguhnya Nabi datang ke Madinah, maka (beliau) menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura’, Rasulullah bertanya kepada mereka (tentang puasa tersebut) ? Maka mereka menjawab : “Padanya adalah hari dimana Allah telah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan (Nabi) Musa, maka kami berpuasa untuk bersyukur kepada Allah Yang Maha Tinggi (atas semua itu)”. Maka faidah yang bisa diambil dari hal tersebut adalah bahwa (kebolehan) bersyukur kepada Allah atas sesuatu (yang terjadi) baik karena menerima sebuah kenikmatan yang besar atau penyelamatan (terhindar) dari bahaya, dan bisa diulang-ulang perkara (syukuran) tersebut pada hari (yang sama) setiap tahun. Adapun syukur kepada Allah dapat dilakukan dengan bermacam-macam Ibadah seperti sujud (sujud syukur), puasa, shadaqah dan tilawah (membaca al-Qur’an). dan sungguh adakah nikmat yang paling agung (besar) dari berbagai nikmat (yang ada) selain kelahiran Nabi (Muhammad) Nabi yang penyayang pada hari (peringatan Maulid) itu ?” [12]

Pendapat Al-Imam Al-Hafidz Muhammad bin Abdurrahman Al-Qahiriy, dikenal dengan nama Al-Imam As-Sakhawiy (831 H – 902 H), beliau juga dikenal sebagai Ahli sejarah di Madinah, penulis kitab Adh-Dhaw’ul Lami’. Beliau juga telah menyusun sebuah karya Maulid yang diberi judul “Al-Fakhrul ‘Ulwi fil Mawlidin Nabawiy”.

“Tidak pernah dikatakan (perbincangkan) dari salah seorang ulama Salafush Shaleh pada kurun ke tiga yang mulya dan sungguh itu baru ada setelahnya. Kemudian umat Islam diseluruh penjuru daerah dan kota-kota besar senantiasa memperingati Maulid Nabi di bulan kelahiran Beliau. Mereka mengadakan jamuan yang luar biasa dan diisi dengan perkara-perkara yang menggembirakan serta mulya, dan bershaqadah pada malam harinya dengan berbagai macam shadaqah, menampakkan kegembiraan, bertambahnya kebaikan bahkan diramaikan dengan pembacaan (buku-buku) Maulid Nabi yang mulya, dan menjadi teranglah (jelaslah) keberkahan dan keutamaan (Maulid Nabi) secara merata dan semua itu telah teruji”. [13]

Selanjutnya,

“Kemudian (beliau) berkata, “Adanya (tanggal) kelahiran Nabi Asy-Syarif yang paling shahih adalah pada malam Senin, 12 Rabi’ul Awwal. Dikatakan (qoul yang lain) : pada malam tanggal 2, dikatakan juga pada tanggal 8, 10 dan lain sebagainya. Maka dari itu, tidak mengapa mengerjakan kebaikan pada setiap hari-hari ini dan malam-malamnya dengan persiapan (kemampuan) yang ada bahkan bagus dilakukan pada hari-hari dan malam-malam bulan (Rabi’ul Awwal)”. [14]

Fatwa Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy (849 H – 911 H), didalam kitabnya beliau menuturkan bahwa sangat jelas dasar syara’ mengenai peringatan Maulid Nabi,

“Dan sungguh sangat jelas bagiku yang dikeluarkan (diriwayatkan) atas asal yang lain (dari pendapat Imam Ibnu Hajar) yaitu apa yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqiy dari Anas bahwa sesungguhnya Nabi mengaqiqahkan dirinya sendiri sesudah (masa) kenabian, (padahal) sesungguhnya telah dijelaskan (riwayat) bahwa kakek beliau Abdul Muththalib telah mengaqiqahkan (untuk Nabi) pada hari ke tujuh kelahirannya. Adapun aqiqah tidak ada perulangan dua kali, maka dari itu sungguh apa yang dilakukan oleh Nabi menerangkan tentang (rasa) syukur beliau karena Allah telah mewujudkan (menjadikan) beliau sebagai rahmat bagi semesta alam, dan sebagai landasan bagi umatnya. Oleh karena itu, maka juga boleh (mustahab/patut) bagi kita untuk menanamkan (menerangkan) rasa syukur kita dengan kelahirannya (Rasulullah) dengan mengumpulkan (kaum Muslimin), menyajikan makanan dan semacamnya dari (sebagai) perwujudan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) dan menunjukkan kegembiraan (karena kelahiran beliau)”. [15]

Fatwa beliau lainnya menyatakan bahwa orang yang memperingati Maulid Nabi akan mendapatkan pahala dan peringatan Maulid Nabi termasuk kedalam bid’ah hasanah. Beliau ditanya tentang Maulid Nabi,

“Sungguh telah ada pertanyaaan tentang peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabiul awwal, tentang bagaimana hukumnya menurut syara’ dan apakah termasuk kebaikan atau keburukan serta apakah orang yang memperingatinya mendapatkan pahala ?” Jawabannya, menurutku pada dasarnya amal Maulid itu adalah berkumpulnya manusia, membaca apa yang dirasa mudah dari Al-Qur’an, riwayat hadits-hadits tentang permulaan perintah Nabi serta tanda-tanda yang datang mengiringi kelahiran Nabi kemudian disajikan beberapa hidangan bagi mereka selanjutnya mereka bubar setelah itu tanpa ada tambahan-tambahan lain, itu termasuk kedalam Bid’ah Hasanah (bid’ah yang baik) yang diberi pahala bagi orang yang merayakannya. Karena perkara didalamnya adalah bagian dari pengagungan terhadap kedudukan Nabi dan merupakan menampakkan rasa gembira dan suka cita dengan kelahiran yang Mulya (Nabi Muhammad, dan yang pertama mengadakan hal semacam itu (perayaan besar) adalah penguasa Irbil, Raja al-Mudhaffar Abu Sa’id Kaukabri bin Zainuddin Ali Ibnu Buktukin, salah seorang raja yang mulya, agung dan demawan. Beliau memiliki peninggal yang hasanah/baik, dan beliau lah yang membangun al-Jami’ al-Mudhaffariy dilembah Qasiyun”. [16]

Al-Imam As-Suyuthiy juga memfatwakan ketika ada syubhat yang menyatakan bahwa memperingati wafatnya Nabi itu lebih pantas daripada memperingati Maulid Nabi, dalam hal ini beliau membantahnya sebagai berikut,

“Sesungguhnya kelahiran Nabi  adalah paling agungnya kenikmatan bagi kita semua, dan wafatnya Beliau  adalah musibah yang paling besar bagi kita semua. Adapun syariat menganjurkan (menampakkan) untuk mengungkapkan rasa syukur dan kenikmatan. Dan bersabar serta tenang ketika tertimpa mushibah. Dan sungguh syari’at memerintahkan untuk (menyembelih) beraqiqah ketika (seorang anak) lahir, dan supaya menampakkan rasa syukur dan bergembira dengan kelahirannya, dan tidak memerintahkan untuk menyembelih sesuatu atau melakukan hal yang lain ketika kematiannya, bahkan syariat melarang meratap (an-niyahah) dan menampakkan keluh kesah (kesedihan). Maka (dari sini) jelas bahwa kaidah-kaidah syariat menunjukkan yang baik baik (yang paling layak) pada bulan ini (bulan Maulid) adalah menampakkan rasa gembira atas kelahirannya (Nabi Muhammad) dan bukan (malah) menampakkan kesedihan (mengungkapkan) kesedihan atas wafatnya Beliau”. [17]

Bantahan beliau, sebagaimana juga pernyataan Al-Imam Ibnu Rajab,

“Dan sungguh telah berkata Ibnu Rajab di dalam kitab “al-Lathif” tentang celaan terhadap ‘Ar-Rafidlah’ bahwa mereka telah menjadikan hari Asyura sebagai hari berkabung (bersedih) karena bertepatan dengan hari (pembunuhan) wafatnya sayyidina Husain : Sedangkan Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintahkan untuk menjadikan hari-hari mushibah dan kematian para Nabi sebagai hari bersedih, maka bagaimana dengan orang derajatnya berada dibawah mereka ?” [18]

Lebih jauh lagi, Al-Imam As-Suyuthiy menjelaskan keutamaan tempat dan orang yang memperingati Maulid Nabi,

“Berkata Shulthan Al-‘Arifin Jalaluddin As-Suyuthiy didalam kitabnya “al-Wasail fiy Syarhi Asy-Syamil” : “Tiada sebuah rumah atau masjid atau tempat pun yang dibacakan didalamnya Maulid Nabi melainkan dipenuhi Malaikat yang meramaikan penghuni tempat itu (menyelubunyi tempat itu) dan Allah merantai Malaikat itu dengan rahmat dan Malaikat bercahaya (menerangi) itu antara lain Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Qarbail, ‘Aynail, ash-Shaafun, al-Haafun dan al-Karubiyyun. Maka sesungguhnya mereka (malaikat) itulah yang mendo’akannya karena membaca Maulid Nabi”. [19]

Lanjut lagi,

“Tiada seorang Muslim pun yang didalam rumahnya dilakukan pembacaan Maulid Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam kecuali Allah akan mengangkat wabah kemarau, kebakaran, karam, kebinasaan, kecelakaan, kebencian, hasad dan pendengaran yang jahat, (terhindar) dari pencuri ahli-ahli rumah tersebut. Maka jika apabila mati, Allah akan memudahkan baginya dalam menjawab (pertanyaan) Malaikat Munkar dan Nakir. Dan mereka akan ditempatkan didalam tempat yang benar pada sisi-sisi raja yang berkuasa”. [20]

Pendapat Al-Imam Ibnu Al-Hajj Al-Maliki Rahimahullah (ulama madzhab Malikiyyah),

“Menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk memperbanyak kesyukuran kepada Allah setiap hari Senin bulan Rabi’ul Awwal karena Dia (Allah) telah mengaruniakan kepada kita nikmat yang sangat besar dengan lahirnya Al-Musthafa Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam”. [21]

“Berkata lagi, dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah gembira pada malam kelahirannya dan melakukan pembacaan Maulid Nabi”. [22]

Pendapat seorang Imam yang besar, tokoh yang sangat terkenal, penjaga Islam, tumpuan banyak orang, tempat rujukan para Ahli hadits yang sangat terkenal, Al-Hafidz Abdurrahim bin Al-Husain bin Abdurrahman Al-Mishriy yang terkenal dengan Al-Hafidz Al-Iraqiy (wafat 808 H). Beliau memiliki kitab Maulid yang dinamakan dengan “Al-Mawridul Haniy fiy Mawlidis Saniy”,

“Sungguh melakukan perayaan (walimah) dan memberikan makan disunnahkan pada setiap waktu, apalagi jika padanya disertai dengan kesenangan dan kegembiraan dengan kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada bulan yang mulya ini, dan tidaklah setiap bid’ah itu makruh (dibenci), betapa banyak bid’ah yang disunnahkan bahkan diwajibkan”. [23]

Pendapat Al-Imam Ibnu ‘Abidin di dalam kitab syarahnya atas kitab Maulid Imam Ibnu Hajar,

“Ketahuilah olehmu bahwa sebagian dari perkara baru yang terpuji (bid’ah mahmudah) adalah amal Maulid Nabi Asy-Syarif pada bulan yang mana Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam di lahirkan didalamnya”. [24]

Pendapat Asy-Syekh Husnain Muhammad Makhluf (Syeikhul Azhar) Rahimahullah,

“Sungguh barangsiapa menghidupkan malam Maulid Nabi Asy-Syarif dan malam-malam-malam bulan yang mulya ini yang menerangi didalamnya dengan cahaya Muhammadiy yaitu dengan berdzikir kepada Allah, bersyukur atas nikmat-nikmat yang diberikan kepada umat ini termasuk dilahirkannya makhluk terbaik (Nabi Muhammad) ke alam ini, dan tidak ada yang demikian itu kecuali dengan sebuah akhlak dan kekhusu’an serta menjauhi hal-hal yang diharamkan, amalan bid’ah serta kemungkaran-kemungkaran. Dan termasuk menampakkan kesyukuran sebagai bentuk kecintaan yaitu menyantuni orang-orang tidak mampu, menjalin shilaturahim dan menghidupkan dengan cara ini walaupun tidak ada pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan tidak pula ada dimasa salafush shaleh adalah tidak apa-apa serta termasuk sunnah hasanah”. [25]

Pendapat Asy-Syekh Muhammad Mutawalla Asy-Sya’rawiy Rahimahullah,

“Melakukan penghormatan untuk Maulid yang mulya ini, maka sesungguhnya itu hak bagi kita untuk menampakkan kegembiraan dan…” [26]

Pendapat Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitsamiy Rahimahullah,

“Walhasil, sesungguhnya bid’ah hasanah itu selaras dengan sebuah kesunnahan, dan amal Maulid Nabi serta berkumpulnya manusia untuk memperingati yang demikian adalah bid’ah hasanah”. [27]

Pendapat Al-Imam Al-Hafidz Al-Qasthalaniy Rahimahullah,

“Maka Allah akan memberikan rahmat bagi orang-orang yang menjadikan Maulid Nabi yang penuh berkah sebagai perayaan”. [28]

“Sebagian dari kebolehan merayakan Maulid Nabi Nabawi dengan perkara yang masyru’ (disyariatkan) bukan dengan kemungkaran”. [29]

Pendapat Al-Imam Al-Alusiy dalam kitab tafsirnya,

“Firman Allah, “Katakanlah : “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira”. (Yunus : 58), dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah rahmat sebagaimana yang di firmankan Allah ‘azza wa jalla, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. Sebagaimana juga didalam hadits, “Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan Allah”. (Riwayat Imam Hakim dalam kitab Mustadraknya dari Abu Hurairah), maka wajib bagi sebagian dari kita untuk merayakannya dan bergembira dengan rahmat ini”. [30]

Pendapat Al-‘Allamah Asy-Syekh Ahmad Zaini Dahlan, mantan Mufti Madzhab Syafi’iyyah di Mekkah,

“Kebiasaan manusia ketika disebut tentang Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam berdiri untuk menghormati beliau dan berdiri ini disunnahkan untuk menghormati Nabi, dan sungguh telah banyak ulama kaum Muslimin yang melakukan seperti yang demikian”. [31]

Pendapat Al-‘Allamah As-Syekh As-Sayyid Muhammad Ibnu Alwi Al-Maliki Al-Hasaniy Rahimahullah,

“Kami memandang sesungguhnya memperingati Maulid Nabi yang mulya itu tidak mempunyai bentuk-bentuk yang khusus yang mana semua orang harus dan diharuskan untuk melaksanakannya. Akan tetapi segala sesuatu yang dilakukan, yang dapat menyeru dan mengajak manusia kepada kebaikan dan mengumpulkan manusia atas petunjuk (agama) serta menunjuki mereka kepada hal-hal yang membawa manfaat bagi mereka, untuk dunia dan akhirat maka hal itu dapat digunakan untuk memperingati Maulid Nabi, Oleh karena itu andaikata kita berkumpul dalam suatu majelis yang disitu dibacakan puji-pujian yang menyanjung Al-Habib (Sang Kekasih yakni Nabi Muhammad), keutamaan beliau, jihad (perjuangan) beliau, dan kekhususan-kekhususan yang berada pada beliau; lalu kita tidak membaca kisah Maulid Nabi -yang telah dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat dan mereka menyebutnya dengan istilah “Maulid” (seperti Maulid Diba’, Barzanji, Syariful Anam, Al-Habsyi, dan lain sebagainya), yang nama sebagian orang menyangka bahwa peringatan Maulid Nabi itu tidak lengkap tanpa pembacaan kisah-kisah Maulid tersebut- kemudian kita mendengarkan mau’idzah-mau’idzoh (peringatan-peringatan), pengarahan-pengarahan, nasehat-nasehat yang disampaikan oleh para ulama dan ayat-ayat al-Qur’an yang dibacakan oleh seorang Qari”. [32]

Lebih lanjut,

“Andaikan kita melakukan itu semua maka itu sama halnya dengan kita membaca kisah Maulid Nabi yang Mulya tersebut dan itu termasuk dalam makna memperingati Maulid Nabi yang Mulya. Dan saya yakin bahwa peringatan yang saya maksudkan ini tidak menimbulkan perbedaan serta adu domba antara dua kelompok”. [33]

Pendapat Al-‘Allamah Asy-Syaikh Ali Jumu’ah (Mufti Mesir), [34]

“Sesungguhnya maulid (kelahiran) Nabi yang mulia merupakan limpahan rahmat Ilahi yang dihamparkan bagi sejarah manusia seluruhnya. Dan Al Qur’an Al-Karim mengungkapkan keberadaan Nabi sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Rahmat ini tidak terbatas, ia meresap masuk ke dalam pendidikan, pengajaran, dan pensucian jiwa manusia. Rahmat tersebut jugalah yang menunjukan manusia ke jalan kemajuan yang lurus dalam lingkup kehidupan mereka, baik secara materi maupun maknawi.
Rahmat tersebut juga tidak terbatas untuk orang-orang di jaman itu saja, tetapi membentang luas sepanjang sejarah manusia seluruhnya. Allah berfirman,

Al-Jumu’ah (62) No. Ayat : 3

“Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Merayakan peringatan maulid Nabi merupakan salah satu amal yang paling utama dan sebuah cara pendekatan diri kepada Tuhan. Kerena keseluruhan peringatan tersebut merupakan ungkapan kebahagiaan dan kecintaan kepada beliau. Dan cinta kepada Nabi, merupakan salah satu prinsip dasar dari prinsip-prinsip iman. Sebuah hadits shahih dari Nabi bahwa beliau bersabda:

“Demi dzat yang diriku berada di dalam genggaman-Nya, tidak beriman (sempurna) seseorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tua dan anaknya.” 1

Di dalam hadits lain, beliau bersabda:

“Tidak beriman (sempurna) seseorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tua, anaknya dan manusia seluruhnya.” 2

Ibnu Rajab berkata, “Cinta kepada Nabi termasuk prinsip-prinsip dasar Iman. Cinta ini seiring dengan cinta kepada Allah yang menyandingkan keduanya dan mengancam siapa saja yang lebih mengutamakan kecintaan kepada perkara-perkara lain yang sudah menjadi tabiat manusia seperti kerabat, harta benda, dan tanah air atas kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya.” Allah berfirman,

At-Taubah (9) No. Ayat : 24

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Ketika Umar berkata kepada Nabi, “Engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri”. Beliau berkata, “Tidak Umar, sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.” Umar berkata, “Demi Allah, Engkau sekarang lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Beliau berkata, “Sekarang, wahai Umar.” 3

Merayakan peringatan maulid Nabi pada dasarnya adalah sambutan penghormatan terhadap beliau. Sambutan dan penghormatan terhadap beliau merupakan perkara yang diisyaratkan secara pasti (Qath’i), karena termasuk prinsip utama dari segala prinsip dasar.

Sesungguhnya Allah mengetahui keistimewaan Nabi-Nya dan Allah memperkenalkan namanya, kebangkitan, kedudukan, dan martabatnya sebagai rahmat kepada alam semesta seluruhnya. Maka alam semesta dan segala isinya ini senantiasa bergembira dan bersuka cita terhadap beliau yang merupakan cahaya Allah, anugerah-Nya, nikmat dan hujjah-Nya pada semesta.

Telah menjadi kebiasaan dan tradisi di kalangan salafus saleh sejak abad ke-4 dan ke-5 merayakan peringatan maulid Nabi yang agung. Mereka menghidupkan malam maulid dengan berbagai macam ketaatan dan ibadah kepada Allah seperti memberi makan fakir miskin, membaca Al Qur’an, membaca dzikir-dzikir, melantunkan puisi-puisi dan pujian-pujian tentang Rasulullah. Hal ini ditegaskan oleh sebilangan ulama seumpama Al-Hafizh Ibnu Jauzi, Al-Hafizh Ibnu Kautsir, Al-Hafizh Ibnu Dihyah Al-Andalusi, Al-Hafizh Ibnu Hajar, dan Sang Penutup Huffadz (para penghapal hadits dalam jumlah yang sangat banyak) Jalaluddin Al-Suyuthi, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka.

Banyak ulama dan fuqaha yang telah menulis buku-buku tentang anjuran merayakan peringatan maulid Nabi yang mulia. Mereka menjelaskan dalil-dalil yang shahih tentang sunnahnya kegiatan ini. Semua itu tidak menyisakan ruang bagi orang yang memiliki akal, pemahaman, dan pikiran yang sempurna untuk mengingkari apa yang ditempuh dan dilakukan oleh kalangan salafus saleh berupa perayaan maulid Nabi.

Dalam kitab Al-Madkhal, Ibnu Hajj menjelaskan dengan panjang lebar tentang keutamaan-keutamaan yang berkaitan dengan perayaan ini dan beliau mengemukakan uraian penuh manfaat yang membuat lapang hati orang-orang yang beriman.

Perlu diketahui bahwa Ibnu Hajj sendiri menulis kitab dengan tema mencela perkara-perkara bid’ah yang diada-adakan yang tidak tersentuh oleh dalil syariat.

Sang penutup para Hafizh, Jalaluddin As-Syuyuthi, di dalam bukunya “Husnul Maqshid fi Amalil Maulid” memberikan penjelasan tentang maulid Nabi dalam rangka menjawab pertanyaan yang diajukan kepada tentang kegiatan maulid Nabi pada bulan Rabi’ul awwal: Apa hukumnya dalam pandangan syariah ? Apakah kegiatan itu terpuji atau tercela ? Dan apakah pelakunya mendapatkan pahala ? Beliau berkata, “Jawabannya, “Menurutku, bahwa hukum dasar kegiatan maulid (yang berupa berkumpulnya orang-orang yang banyak; membaca Al Qur’an; menyampaikan khabar-khabar yang diriwayatkan tentang awal perjalanan hidup Nabi dan tanda-tanda kebesaran yang terjadi pada waktu kelahiran beliau; kemudian dihidangkan makanan untuk mereka dan mereka pun makan bersama; lalu mereka beranjak pulang, tanpa ada tambahan kegiatan lain) adalah termasuk bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan diberikan pahala bagi orang yang melakukannya. Karena dalam kegiatan itu terkandung makna mengagungkan peran dan kedudukan Nabi serta menunjukan suka cita dan kegembiraan terhadap kelahiran beliau.”

Imam Syuyuthi membantah orang yang berkata, “Aku tidak mengetahui dasar hukum perayaan maulid ini dalam Al Qur’an maupun dalam Sunnah”, dengan mengatakan, “Ketidaktahuan terhadap sesuatu, bukan berarti tidak adanya sesuatu itu”. Beliau juga menjelaskan bahwa para Imam Hafizh, Abu Fadhl Ibnu Hajar telah menjelaskan dasar hukumnya dari Sunnah. Imam Syuyuthi sendiri juga mengemukakan dasar hukumnya yang kedua dan menjelaskan bahwa bid’ah tercela adalah perkara baru yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dalil syari’at. Adapun jika ada hubungannya yang kuat dengan dalil syari’at yang memujinya, maka perkara itu tidak tercela.

Baihaqi meriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa beliau berkata, “Perkara-perkara baru itu ada dua macam, yaitu pertama, perkara baru yang diada-adakan yang bertentangan dengan Al Qur’an, Sunnah, atsar, atau ijma’. Maka ini adalah bid’ah yang sesat. Kedua, perkara-perkara baru yang tidak tercela”.

Umar bin Khaththab Ra berkata tentang pelaksanaan shalat tarawih pada bulan Ramadlan,

“Alangkah baiknya bid’ah ini”

“Yakni ini adalah perkara baru yang belum dilaksanakan sebelumnya. Namun apabila dilakukan maka kita juga tidak akan menemukannya bertentangan dengan perkara yang dahulu (terjadi di jaman Nabi)”. Demikianlah akhir kutipan dari Imam Syafi’i.

Imam Syuyuthi berkata, “Kegiatan merayakan maulid Nabi tidak bertentangan dengan Al Qur’an, Sunnah, atsar, maupun ijma’. Maka ini bukan perbuatan tercela sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Syafi’i. Justru kegiatan itu merupakan perbuatan baik yang belum dikenal pada masa awal-awal Islam. Kegiatan memberi makan yang terlepas dari perbuatan dosa adalah perbuatan baik. Dengan demikian, kegiatan maulid termasuk perkara baru yang dianjurkan sebagaimana diungkapkan oleh Sultannya para ulama, Izzuddin bin Abdissalam.”

Dan hukum dasar berkumpul untuk menyemarakkan syiar maulid adalah sunnah dan qurbah (ibadah, mendekatkan diri kepada Allah). Sebab kelahiran Nabi merupakan nikmat terbesar untuk kita, dan syariat memerintahkan kita untuk mengungkapkan syukur atas nikmat yang kita peroleh.

Inilah yang dinyatakan kuat (rajih) oleh Ibnu Hajj di dalam kitab Al-Madkhal. Beliau berkata, “Karena pada bulan ini Allah menganugerahkan kepada manusia di bumi tokoh junjungan untuk orang-orang terdahulu dan sekarang, maka wajib ditingkatkan pada hari itu ibadah-ibadah, kebaikan dan syukur kepada Allah atas nikmat besar yang dilimpahkan-Nya kepada kita.”

Dasar hukum yang dikeluarkan oleh Al-Hafizd Ibnu Hajar tentang kegiatan maulid Nabi adalah hadits yang terdapat di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi tiba ke Madinah dan menemukan orang-orang Yahudi sedang berpuasa pada hari Asyura, maka beliau menanyakan hal itu kepada mereka. Mereka pun menjawab, “Ini adalah hari yang Fir’aun ditenggelamkan dan Musa diselamatkan oleh Allah. Maka kami berpuasa padanya sebagai ungkapan syukur kepada Allah.”

Ibnu Hajar berkata, “Jadi, diambil faidah yang terkandung di dalam hadits ini yaitu melaksanakan syukur kepada Allah atas anugerah yang Dia berikan pada hari tertentu, pemberian nikmat atau pencegahan dari bencana. Dan. Kegiatan itu diulang pada hari yang sama setiap tahun. Kegiatan syukur itu tercapai dengan berbagai bentuk ibadah seperti sujud (shalat), puasa, sedekah, dan membaca Al Qur’an. Dan, nikmat manakah yang lebih besar daripada nikmat munculnya Nabi ini, Nabi rahmat, pada hari itu ?”

Al-Hafizh Ibnu Hajar menegaskan bentuk-bentuk kegiatan di dalam perayaan tersebut dan berkata, “Maka semestinya kita batasi bentuk-bentuk kegiatan itu pada hal-hal yang dipahami sebagai ungkapan syukur kepada Allah seperti yang telah disebutkan: membaca Al Qur’an, memberi makan, melantunkan puisi-puisi pujian bagi Nabi dan puisi-puisi zuhud yang menggerakkan hati untuk melakukan kebajikan dan amal akhirat. Perkara-perkara mubah yang mengandung nilai suka cita dan kegembiraan terhadap hari kelahiran itu tidak mengapa untuk disertakan dengannya”.

Imam Syuyuthi mengutip penjelasan Imam tokoh-tokoh qira’at, Al-Hafizh Syamsuddin Ibnu Jauzi dari kitabnya “Urf Al-Ta’rif bi Al-Maulid Al-Syarif”, “Jelas disebutkan dalam hadis shahih bahwa Abu Lahab mendapatkan keringanan dari siksa neraka pada setiap malam senin karena memerdekakan Tsuwaibah setelah mendengarkan berita gembira kelahiran Nabi yang disampaikannya. Jika Abu Lahab yang kafir dan dicela dengan nyata di dalam Al Qur’an mendapatkan keringanan di dalam neraka karena suka cita dan kegembiraannya pada malam kelahiran Nabi maka bagaimana lagi dengan seorang muslim dan bertauhid dari umat Nabi yang bergembira dengan kelahiran beliau dan berusaha sekuat tenaga yang ia mampu untuk mencintainya ? Oh, sungguh balasannya dari Allah adalah Dia memasukannya kedalam surga yang penuh dengan karunia-Nya”.

Al-Hafizh Syamsuddin Ad-Dimasyqi di dalam kitabnya yang berjudul “Mawrid Al-Shadi fi Maulid Al-Hadi” melantunkan beberapa bait syair :

Apabila orang ini kafir, baginya celaan nyata,
Dan binasa kedua tangannya, abadi di dalam neraka jahim
Telah shahih bahwa diringankan baginya senantiasa setiap hari Senin karena suka cita dengan Ahmad (Nabi)
Maka bagaimana kiranya dengan hamba
Yang sepanjang usianya bergembira terhadap Ahmad (Nabi) dan mati dalam keadaan bertauhid ? 4

Selain dasar-dasar hukum dan argumentasi yang disebutkan, bisa juga berdalil dengan umumnya firman Allah,

Ibrahim (14) No. Ayat : 5

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang DAN INGATKANLAH MEREKA KEPADA HARI-HARI ALLAH”. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”

Tidak ragu lagi bahwa kelahiran Nabi termasuk hari-hari Allah, sehingga memperingatinya berarti melaksanakan perintah Allah. Perkara yang demikian bukanlah bid’ah, tetapi merupakan “sunnah hasanah” (tradisi baik), sekalipun tidak pernah ada pada masa Rasulullah.

Kita merayakan kelahiran Nabi karena kita mencintai beliau. Dan bagaimana tidak mencintai beliau, sedangkan seluruh alam semesta mengenal dan mencintainya. Ingatlah hadits tentang sebatang kurma, betapa ia menyayangi dan menyayangi Nabi serta rindu untuk selalu dekat dengan Nabi yang mulia, bahkan menangis sejadi-jadinya karena rindu kepada Nabi.

Hadits yang menceritakan kejadian ini mutawatir sehingga informasi yang terkandung didalamnya bersifat pasti.

Diriwayatkan dari sebagian besar sahabat Rasulullah bahwa Nabi berkhutbah dengan berdiri dan mengandalkan posisi pada sebatang pohon kurma yang berdiri tegak. Apabila berdiri lama, beliau meletakkan tangan beliau yang mulia di batang kurma tersebut.

Setelah orang-orang yang shalat semakin banyak, para sahabat membuatkan mimbar untuk beliau. Suatu kali pada hari Jum’at, ketika Nabi keluar dari kamar yang mulia langsung menuju mimbar dan melewati batang kurma yang biasanya Nabi berkhutbah disisinya, tiba-tiba saja batang kurma itu mengeluarkan suara yang keras dan merintih dengan rintihan rindu yang mengharukan sehingga seluruh masjid bergetar dan batang pohon itu ’terkoyak-koyak’,

Batang pohon itu tidak menjadi tenang sampai Nabi turun dari mimbar dan mendatangi batang itu. Lalu beliau meletakkan tangan beliau yang mulia padanya dan mengusapnya. Kemudian beliau merengkuhnya ke dada beliau sehingga batang pohon itu pun diam. Kemudian Nabi mengajukan pilihan kepadanya mana yang lebih menggembirakan baginya, menjadi pohon di surga dan akar-akarnya menyerap makanan dari sungai-sungai surga, atau kembali menjadi pohon yang berbuah di dunia. Batang pohon itu memilih untuk menjadi pohon di surga. Lalu Nabi berkata, “Aku lakukan, Insya Allah. Aku lakukan, Insya Allah. Aku lakukan, Insya Allah.”

Batang pohon itu pun semakin tenang. Kemudian Nabi bersabda, “Demi Dzat yang diriku berada di dalam genggaman-Nya, seandainya aku tidak berjanji kepadanya, niscaya ia akan merintih sampai hari kiamat karena rindu kepada Rasulullah.” 5

Dari pendapat-pendapat para Imam seperti Ibnu Hajar, Ibnu Jauzi, Imam Syuyuthi, dan lain-lain, telah jelas bahwa itulah sikap umat sejak abad ke-5 H. Kami berpendapat bahwa perayaan Maulid Nabi yang mulia itu sunnah dan dianjurkan, sesuai dengan sikap umat dan para ulama. Perayaan tersebut harus dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan seperti membaca Al Qur’an, dzikir, dan memberi makan; tidak diselingi dan disertai dengan hal-hal yang tercela seperti tari-tarian dan lain-lain.

Kami tidak setuju dengan pendapat sebagian orang yang di anggap ganjil dan keluar dari ijma’ amali (konsensus praktis) umat ini. Dan tidak seiring dengan pendapat umum para imam dan ulama besar umat. Perayaan seperti itu belumlah cukup untuk mengungkapkan kesyukuran dan tidaklah berlebihan terhadap Nabi, sang rahmat yang dianugerahkan dan kekasih Tuhan semesta alam.

Pada bagian akhir, saya ingin mengutipkan bait-bait puisi pengarang Burdah (Imam al-Bushiri):

Dialah yang telah sempurna makna dan bentuknya
Kemudian dipilih menjadi kekasih oleh pencipta makhluk
Tidak ada bandingan dalam kebaikan-kebaikannya
Maka, inti kebaikan padanya tidak terbagi-bagi
Tinggalkanlah bagaimana klaim Nasrani tentang nabi meraka,
Dan simpulkan pujian baginya, sekehendakmu
Sematkan kemuliaan pada dirinya, sekehendakmu
Sematkan keagungan pada kedudukannya, sekehendakmu
Sesungguhnya tanpa batas keutamaan Rasulullah,
Sehingga dapat diungkapkan oleh penutur dengan lidah

Dan Allah Yang Mahatinggi lebih Mengetahui.

Demikianlah yang bisa kami sebutkan mengenai fatwa-fatwa dan pendapat-pendapat ulama-ulama besar nan agung Kaum Muslimin, masih banyak fatwa ulama lainnya yang dituturkan dalam kitab mereka seperti fatwa al-‘arif billah Abu Abdullah Muhammad bin Ibad, Asy-Syekh DR. Asy-Syarbasiy, Al-Imam Taqiyuddin As-Subki, Asy-Syekh Rasyid Ridla, Al-Imam Al-Wansyarsiy termasuk juga Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah** dan lain sebagainya. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari tipudaya para penipu yang senantiasa mengincar umat Islam untuk dijauhkan dari ulama yang benar-benar mumpuni, yang lebih paham akan agama ini. Amin…

Abdurrohim ats-Tsauriy

Catatan Kaki ;

1. Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon.
2. Ibid, hal. 415.
3. Kitab Madarijus Su’ud hal. 16, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh An-Nawawiy Ats-Tsaniy (Sayyid Ulama Hijaz)
4. Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon.
5. Ibid, hal. 415.
6. Ibid, hal. 416 ; kitab As-Sirah Al-Halabiyah (1/83-84) karangan Al-Imam ‘Ali bin Burnahuddin Al-Halabiy.
7. Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon.
8. Ibid, hal. 415 ; kitab Anwarul Muhammadiyah hal.20, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh Yusuf An-Nabhaniy. Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut – Lebanon.
9. Ibid, hal. 415.
10. Kitab Husnul Maqshid fi Amal Maulid, karangan Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy
11. Ibid.
12. Ibid.
13. Tercantum dalam kitab Al-Ajwibah al-Mardliyyah ; Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon ; kitab As-Sirah Al-Halabiyah (1/83-84) karangan Al-Imam ‘Ali bin Burnahuddin Al-Halabiy
14. Ibid.
15. Kitab Husnul Maqshid fi Amal Maulid, karangan Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy.
16. Ibid ; kitab Al-Hawi Al-Fatawi hal. 189, karangan Al-Imam As-Suyuthiy ; kitab I’anatut Thalibin Juz 3 Hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon ; Tuhfatul Muhtaj pada fasal karangan Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy.
17. Kitab Husnul Maqshid fi Amal Maulid, karangan Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy.
18. Ibid.
19. Kitab I’anatut Thalibin Juz 3 Hal. 415 , karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon.
20. Ibid. ; Kitab Al-Wasail fiy Syarh Al-Masaail lis-Suyuthiy
21. Kitab Al-Madhkal, karangan Al-Imam Ibnu Al-Hajj jilid.1 hal. 261
22. Ibid.
23. Kitab Ad-Durar As-Saniyyah hal. 190.
24. Kitab Syarah ‘Alaa Maulid Al-Imam Ibnu Hajar.
25. Kitab Fatawa Syar’iyyah (1/131)
26. Kitab ‘Alaa Maidah Al-Fikr Al-Islami hal. 25.
27. Pendapat Imam Ibnu Hajar Al-Haitsamiy
28. Kitab Mawahid Al-Ladunniyah (1/148) -Syarh ‘alaa Shahih Bukhari-, karangan Al-Imam Al-Qasthalaniy
29. Ibid.
30. Kitab Tafsir Al-Imam Al-Alusiy
31. Lihat : Sirah An-Nabawiyah wa Atsar al-Muhammadiyah, catatan pinggir As-Sirah Al-Halabiyah.
32. Kitab Haulal Ihtifal bidzikri Maulid Nabawi
33. Ibid.
34. Kitab Bayan Al-Qawim,
** Mengenai pendapat Imam Ibnu Taimiyah terdapat dalam kitab Iqthidha’ Shirathal Mustaqim dan perlu penjelasan lebih rinci. Secara garis besar, Imam Ibnu Taimiyah tergolong ulama yang sangat ketat dan tidak mentolerir perbedaan apapun. Beliau bukanlah wahabi (sekte yang dinisbatkan kepada Syekh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah) serta mengenai perayaan yang disyariatkan, wajib mengambilnya namun hari-hari istimewa seperti hari kemenangan perang badar, perang Hunain, perang Khandak, hari fathul Mekkah dan sebagainya tidak wajib diambil demikian juga Maulid Nabi namun merayakannya mendapatkan pahala.

Dalam kenyataannya, ada perbedaan pendapat antara habib yang satu dengan habib yang lain dan ada perbedaan pendapat antara ulama/kyai yang satu dengan ulama/kyai yang lain. Tidak ada yang patut disalahkan, kecuali sebuah ajaran yang tidak mempunyai dalil yang tepat. Karena tanpa dalil yang tepat, seseorang akan cenderung menyalahkan pendapat orang lain yang tidak sesuai dengan apa yang dipahaminya. Dan tanpa dalil yang tepat, bisa saja seseorang bertindak anarkis dan merugikan anggota masyarakat lainnya.

Kalau dalam pandangan saya, Dalil yang ada sekarang (seperti AlQuran dan AlHadits) itu tidak bisa serta merta di pahami secara terjemahan bahasa saja. Tapi harus melalui kitab Tafsir yang mumpuni atau penafsiran seorang ‘Ulama yang Di Akui hujjah (pendapat) nya di kalangan ulama-ulama pada masanya (seperti Imam Syafi’i, yang membangun Ilmu Fiqih -Madzhab- Syafi’i). Jikalau integritas seorang ‘Ulama masih diragukan ulama-ulama lainnya, maka hujjah (pendapat) nya belum bisa dipertanggungjawabkan karena dalil-dalilnya masih dapat dipatahkan oleh ulama-ulama lainnya pada masa itu. Jangan kita menganggap AlQuran seperti baru saja diturunkan pada masa sekarang ini, karena pembahasan mengenai AlQuran sudah ada sejak zaman Rasulullah. Dan tidak mungkin diakui kebenarannya, apabila seseorang langsung menafsirkan AlQuran hanya melalui sebuah buku Terjemah AlQuran ber Bahasa Indonesia, lalu langsung menyalahkan ulama-ulama yang sudah memahami kajian ilmu AlQuran, yang disampaikan secara turun-temurun dari zaman Rasulullah secara lisan dan ditulis dalam bentuk kitab berbahasa Arab gundul, yang dikenal dengan nama “Kitab Kuning”.

Kitab Kuning yang ada sekarang adalah karya tulis ‘Ulama Mekkah, Madinah, Yaman, Irak dan mereka sudah memahami makna (tafsir) Ayat-Ayat AlQuran yang secara lisan disampaikan Rasul kepada Para Sahabatnya, kemudian Tabi’in. Ilmu mereka (para Ulama) itu bersambung sampai ke Rasul dan Rasul bersambung melalui Malaikat Jibril langsung kepada 4JJI. Inilah logika kebenaran yang terkandung dalam “Kitab Kuning” sebagai penafsiran AlQuran untuk menjadi pedoman dalam kehidupan orang-orang Islam di Indonesia. Disini saya menjelaskan kedudukan Kitab Kuning sebagai Penjelasan Makna-Makna yang terkandung dalam AlQuran, dan tentu saja hanya AlQuran lah Kitab Suci atau Kalam 4JJI yang Sebenarnya. Dan pendapat saya yang terakhir dan final adalah tidak ada dalil yang lebih mumpuni daripada dalil-dalil yang terdapat dalam Kitab Kuning tersebut, dan mereka yang sengaja mengingkarinya tentu tidak termasuk dalam kategori ‘Ulama, karena Tak ada Bedanya Tafsir AlQuran dengan Makna yang Terkandung dalam Kitab Kuning tersebut. Makanya saya sebut ‘Ulama yang mengingkari kebenaran Kitab Kuning adalah ‘Ulama Aspal (Palsu).

Sudah saatnya kita menghargai kerja keras santri-santri pesantren yang tanpa kenal lelah belajar dan memahami Kitab Kuning itu, agar suatu saat mereka dapat mengklarifikasikan realita kebenaran saat masyarakat bingung tentang Islam yang sebenarnya. Dan tidak lupa semangat para Sufi yang akan membangun Indonesia menuju Negara yang Maju dan Sejahtera… Dan Penuh Cahaya… Amien…

Bahkan Kitab Hadits Shahih Bukhari pun dalam bentuk Kitab Kuning.
Yakin deh keshahihannya.

Kajian Kitab Kuning Shahih Bukhari – TVRI (Indonesian National Television Channel)

“Sesungguhnya aku merasakan nafas Ar Rahman, nafas dari Yang Maha Pengasih, mengalir kepadaku dari Yaman !” Demikian sabda Nabi Saw tentang diri Uwais, yang kemudian dalam tradisi tasawuf menjadi contoh bagi mereka yang memasuki tasawuf tanpa dituntun oleh sang guru yang hidup.

Uwais Al Qarni adalah seorang sufi yang lahir di sebuah desa terpencil bernama Qaran di dekat Nejed, anak dari Amir, sehingga dia mempunyai nama lengkap Uwais bin Amir Al Qairani, karena beliau lahir dilahirkan di desa yang bernama Qaran, sehingga beliau lebih di kenal dengan sebutan Uwais Al Qarni.

Di kalangan para sufi beliau dikenal sebagai seorang yang ta’at dan berbakti kepada kedua orang tua, dan kehidupannya yang amat sederhana dan zuhud yang sejati, beliau juga dikenal sebagai orang sufi yang mempunyai ilmu kesucian diri yang amat luar biasa yang dilimpahkan Allah SWT kepadanya. Pada zaman Nabi Muhammad saw, ada seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni. Ia tinggal di negeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak famili sama sekali.

Rasulullah Saw. melanjutkan penjelasannya tentang sifat Uwais al-Qarni. Beliau bersabda, ”Wahai Abu Hurairah ! Sesungguhnya Allah mencintai dari makhluk-makhlukNya yang bersih hatinya, yang tersembunyi, yang baik-baik, rambutnya acak-acakan, wajahnya berdebu, yang kosong perutnya kecuali dari hasil pekerjaan yang halal, orang-orang yang apabila meminta izin kepada para penguasa maka tidak diizinkan, jika melamar wanita-wanita yang menawan maka mereka tidak mau menikah. Jika tidak ada mereka tidak dicari. Ketika hadir, mereka tidak diundang. Jika muncul, kemunculannya tidak disikapi dengan kegembiraan. Apabila sakit, mereka tidak dijenguk. Dan jika mati, tidak dihadiri prosesi pemakamannya.”

Para sahabat bertanya,”Bagaimana kita dapat menjadi bagian dari mereka ?”

Rasul menjawab,”Orang itu adalah Uwais al-Qarni.”

Para sahabat bertanya,”Bagaimana ciri-ciri orang yang bernama Uwais al-Qarni ?”

Rasul menjawab,”Seorang yang warna bola matanya bercampur, mempunyai warna kekuning-kuningan, berbahu lebar, berbadan tegap, warna kulitnya terang, dagunya sejajar dengan dadanya, menundukkan dagunya ketempat sujudnya, meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya, membaca al-Qur’an lalu menangis, mengenakan sarung dari wol, pakaian atasnya dari wol, tidak dikenal penghuni bumi, terkenal dikalangan penghuni langit, apabila bersumpah atas nama Allah maka ia pasti memenuhi sumpahnya. Sungguh dibawah bahu kirinya ada cahaya berwarna putih. Sungguh, ketika hari kiamat diperintahkan kepada para hamba, ”Masuklah kalian ke dalam surga”. Dan dikatakan kepada Uwais, ”Berhentilah ! Berilah syafaat !” lalu Allah memberikan hak syafaat kepadanya untuk menolong sejumlah orang dari suku Rabi’ah dan Mudhar (dua kabilah bangsa Arab). Wahai Umar, wahai Ali ! Apabila kalian berdua bertemu dengannya, maka mintalah kepadanya agar kiranya ia memintakan ampunan untuk kalian, maka Allah akan mengampuni kalian berdua.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni.

Uwais dalam membantu meringankan beban orang tuanya, ia bekerja sebagai penggembala dan pemelihara ternak upahan. Dalam kehidupan kesehariannya ia lebih banyak menyendiri dan bergaul hanya dengan sesama penggembala di sekitarnya. Oleh karenanya, ia tidak dikenal oleh kebanyakan orang disekitarnya, kecuali para tuan pemilik ternak dan sesamanya, para penggembala. Hidupnya amat sangat sederhana. Pakaian yang dimiliki hanya yang melekat di tubuhnya. Setiap harinya ia lalui dengan berlapar-lapar ria. Ia hanya makan buah kurma dan minum air putih, dan tidak pernah memakan makan yang di masak atau di olah. Oleh karenanya, ia merasakan betul derita orang-orang kecil disekitarnya. Tidak cukup dengan empatinya yang sedemikian, rasa takutnya kepada Allah mendorongnya untuk selalu berdoa kepada Allah : “Ya Allah, janganlah Engkau menyiksaku, karena akan ada yang mati karena kelaparan, dan jangan Engkau menyiksaku karena ada yang kedinginan.”

Di siang hari, ia bekerja keras, dan dimalam hari, ia asyik bermunajat kepada Allah swt. Hati dan lisannya tidak pernah lengah dari berdzikir dan bacaan ayat-ayat suci Al Quran, meskipun ia sedang bekerja. Dalam setiap waktu, ia selalu berada bersama Tuhan, dalam pengabdian kepada-Nya. Rasulullah saw menuturkan keistimewaan Uwais di hadapan Allah kepada Umar dan Ali bahwa dihari kiamat nanti, disaat semua orang dibangkitkan kembali, Uwais akan memberikan syafaat kepada sejumlah besar umatnya, sebanyak jumlah domba yang dimiliki Rabbiah dan Mudhar (keduanya dikenal karena mempunyai domba yang banyak). Karena itu, Rasulullah menyarankan kepada mereka berdua agar menemuinya, menyampaikan salam dari Rasulullah, dan meminta keduanya untuk mendoakan keduanya, yang digambarkan bahwa Uwais memiliki tinggi badan yang sedang dan berambut lebat, dan memiliki tanda putih sebesar dirham pada bahu kiri dan telapak tangannya. Sejak Rasulullah menyarankan keduanya untuk menemuinya, sejak itu pula keduanya selalu penasaran ingin segera bertemu dengan Uwais.

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al Qarni. “Ia tampak gila, tinggal sendiri dan tidak bergaul dengan masyarakat. Ia tidak makan apa yang dimakan oleh kebanyakan orang, dan tidak tampak susah ataupun senang. Ketika orang-orang tersenyum ia menangis, dan ketika orang-orang menangis ia tersenyum” Demikian kata rombongan orang-orang Yaman.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar ! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al Qarni.

Ketika Umar dan Ali berhasil menemui Uwais, terjadilah percakapan sebagaimana yang telah dituturkan oleh Abu Na’im Al Asfahani,
Umar         :  “Apa yang anda kerjakan disini ?”
Uwais        :  “Di sini saya bekerja sebagai penggembala”
Umar         :  “Siapa sebenarnya anda ini ?”
Uwais        :  “Saya adalah hamba Allah SWT”
Umar         :  “Semuanya sudah tahu, kita semua adalah hamba Allah SWT, izinkanlah kami mengetahui dan mengenal anda lebih dekat”
Uwais        :  “Silahkan”
Umar         :  “Setelah kami perhatikan, kami mempunyai kesimpulan bahwa anda inilah orang yang pernah diceritakan Rasulullah SAW kepada kami, oleh karena itu berilah kami pelajaran dan do’akan kami agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat”
Uwais        :  “Saya tidak mendo’akan seseorang secara khusus. Setiap hari kami selalu mendo’akan kepada seluruh umat Islam. Siapa sebenarnya anda berdua ini ?”
Ali              :  “Beliau adalah Umar bin Khattab Amirul Mukminin dan saya adalah Ali bin Abi Thalib, kami berdua diutus Rasulullah SAW menemui anda dan menyampaikan salam dari Rasulullah SAW”
Uwais        :  “Assalaamu ‘alaikum wahai Amirul Mukminin dan wahai Ali bin Abi Thalib, semoga Allah SWT selalu memberi kebaikan kepada tuan berdua atas jasa-jasa tuan kepada umat Islam”
Umar         :  “Berilah kami pelajaran yang bermanfaat wahai hamba Allah”
Uwais        :  “Carilah Rahmat Allah SWT dengan ta’at dan mengikuti dengan penuh pengharapan dan takutlah tuan kepada Allah SWT”
Umar         :  “Terima kasih atas pelajaran yang anda berikan pada kami yang sangat berharga ini. Dan kami telah menyediakan kepada anda seperangkat pakaian dan uang untuk tuan. Kami mengharapkan agar anda menerimanya”
Uwais        :  “Terima kasih wahai Amirul Mukminin, kami tidak menolak dan juga tidak membutuhkan apa yang tuan bawa. Upah yang saya terima 4 dirham itu sangat berlebihan, sehingga sisanya saya berikan kepada ibuku. Sehari-hari saya hanya memakan buah korma dan minum air putih dan saya ini belum pernah memakan makanan yang di masak. Kurasakan hidupku ini seolah-olah tidak sampai pada petang hari dan kalau tiba petang hari saya tidak merasa sampai pada pagi hari. Hati saya selalu mengingat Allah dan sangat kecewa kalau tidak sampai mengingat-Nya”

Pernah seorang sufi bernama Harim bin Hayyam berusaha untuk mencari Uwais setelah tidak menemukannya di Qaran. Kemudian ia menuju Basrah. Di tengah perjalanan menuju Basrah, inilah, ia menemukan Uwais yang mengenakan jubah berbulu domba sedang berwudhu di tepi sungai Eufrat. Begitu Uwais beranjak naik menuju tepian sungai sambil merapikan jenggotnya.

Harim mendekat dan memberi salam kepadanya.

Uwais menjawab : “Wa alaikum salam, wahai Harim bin Hayyan.”

Harim terkejut ketika Uwais menyebut namanya.

“Bagaimana engkau mengetahui nama saya Harim bin Hayyan ?” tanya Harim.

“Ruh-ku telah mengenal ruh-mu”, demikian jawab Uwais.

Uwais kemudian menasehati Harim untuk selalu menjaga hatinya.

Juga ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais menceritakan :

Waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan shalat di atas air.
Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah, tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh.

Lalu kami berseru lagi, “Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami !” Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata :
“Apa yang terjadi ?”
“Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?” tanya kami.
“Dekatkanlah diri kalian pada Allah !” katanya.
“Kami telah melakukannya.”
“Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim !”
Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut.Lalu orang itu berkata pada kami,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”.“Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ?” Tanya kami.
“Uwais Al Qarni”. Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada dikapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.”
“Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah ?” tanyanya.
“Ya “jawab kami. Orang itu pun melaksanakan salat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais Al Qarni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais Al Qarni telah pulang ke Rahmatullah.

Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya.” (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais Al Qarni pada masa pemerintahan Sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al Qarni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.”  Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais Al Qarni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.

(Lihatlah di Shahih Muslim Syarah An Nawawi No. 2542, dan dikatakan juga bahwa “Sebaik-baiknya tabi’in adalah Uwais Al Qarni”, hal ini ada dalam kitab Shahih Muslim, lihat di dalam Musnad Ahmad ada di hadits No.15514).

Yunus Emre misalnya memujinya dalam satu sajak syairnya :

Kawan tercinta kekasih Allah

Di tanah Yaman, Uwais Al Qarni

Dia tidak berbohong

Dan tidak makan makanan haram Di tanah Yaman

Uwais Al Qarni di pagi hari ia bangun dan mulai bekerja

Dia membaca dzikir Allah dalam seribu satu malam

Dengan kata Allahu Akbar dia menghela unta-unta di tanah Yaman

Uwais Al Qarni dari Negeri Yaman negeri di sebelah kanan

Negeri asal angin sepoi-sepoi selatan yang dinamakan nafas Ar Rahman, nafas dari Yang Maha Pengasih yang mencapai Nabi

Dengan membawa bau harum dari ketaatan Uwais Al Qarni

Sebagaimana angin sepoi-sepoi sebelumnya yang mendatangkan keharuman yang menyembuhkan

Dari baju Nabi Yusuf kepada ayahnya yang buta, Nabi Ya’kub

Ketika terjadi perang shiffin antara golongan Ali melawan golongan Muawiyah, Uwais berada pada golongannya Ali bin Abi Thalib. Ketika orang-orang Islam membebaskan daerah romawi, beliau ikut barisan tentara Islam, dan ketika kembali ditengah perjalanan beliau terserang penyakit dan meninggal pada tahun 39 H.

Keadaan beliau yang menjadi bahan olok-olokan oleh kaumnya. An Nawawi berkata, “Hal ini (yaitu keadaan Uwais yang menjadi bahan olokan kaumnya) menunjukan bahwasanya beliau menyembunyikan ibadahnya (hubungan antara ia dan Rab-nya), dan ia sama sekali tidak menampakkannya walau sedikitpun. Ini merupakan jalan orang-orang yang mengenal Rab mereka dan para wali Allah.”

http://break-angel.blogspot.com/2010/05/kesederhanaan-uwais-al-qarni-seri-kisah.html

http://idittomi.blogspot.com/2012/03/kisah-seorang-sufi-yang-berbakti-pada.html

http://www.rsi.co.id/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=30&Itemid=38

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=12914130

http://canggile.blogspot.com/2011/05/kisah-uwais-bin-amir-al-qarni-raha.html