Kisah Hasan Al-Basri Dan Penyembah Api

Posted: 13 Mei 2012 in Nusantara
Tag:, , , , , , , , , ,

Hasan mempunyai jiran yang bernama Simeon, seorang penyembah api. Suatu hari Simeon jatuh sakit dan ajalnya hampir tiba. Sahabat-sahabat meminta agar Hasan sudi mengunjunginya. Akhirnya Hasan pun menjenguk Simeon yang terbaring di tempat tidurnya dan badannya telah hitam disebabkan api dan asap.

“Takutlah kamu kepada Allah.” Hasan menasihati, “Engkau telah mensia-siakan seluruh usiamu di tengah-tengah api dan asap.”

“Ada tiga perkara yang telah menghalangiku untuk menjadi seorang muslim.

Pertama adalah kenyataan walaupun kamu semua membenci dunia tapi siang dan malam mengejar harta kekayaan.

Kedua, kamu semua mengatakan bahwa mati adalah suatu kenyataan yang harus dihadapi namun tidak bersedia untuk menghadapinya.

Ketiga, kamu semua mengatakan bahwa wajah Allah akan dilihat, namun hingga saat ini masih melakukan segala yang tidak diridhai-Nya.” jawab Simeon penyembah api.

“Inilah ucapan dari manusia-manusia yang sungguh-sungguh mengetahui. Jika setiap muslim berbuat begitu, apakah yang sepatutnya engkau katakan ? Mereka mengakui keesaan Allah sedangkan engkau menyembah api selama tujuh puluh tahun, dan aku tidak pernah berbuat seperti itu. Jika kita sama-sama terseret ke neraka, api neraka akan membakar dirimu dan diriku. Tetapi jika diizinkan Allah, api tidak akan berani menghanguskan walau sehelai rambut pada tubuhku. Ini disebabkan api diciptakan Allah dan segala ciptaan-Nya tunduk kepada perintah-Nya. Walaupun engkau menyembah api selama tujuh puluh tahun, marilah kita bersama-sama menaruh tangan kita ke dalam api agar engkau dapat menyaksikan sendiri betapa api itu sesungguhnya tidak berdaya dan betapa Allah itu Maha Kuasa.” jawab Hasan.

Setelah berkata demikian Hasan memasukkan tangannya ke dalam api. Namun sedikit pun tidak cedera atau terbakar. Melihat akan hal itu Simeon merasa heran. Suatu ilmu telah diketahuinya.

“Selama tujuh puluh tahun aku telah menyembah api, kini hanya dengan satu atau dua helaan nafas saja yang tinggal, apakah yang harus kulakukan ?” Simeon mengeluh.

“Jadilah seorang muslim.” jawab Hasan.

“Jika engkau memberiku jaminan bahwa Allah tidak akan menghukum diriku, barulah aku menjadi muslim. Tanpa jaminan itu aku tidak mau memeluk agama Islam.” kata Simeon.

Hasan segera membuat satu surat jaminan. Ramai orang-orang yang jujur di kota Basrah memberi kesaksian mereka di atas surat jaminan tersebut. Simeon menitiskan air mata dan menyatakan dirinya sebagai seorang muslim. Kepada Hasan ia berwasiat, “Setelah aku mati, mandikanlah aku dengan tanganmu sendiri, kuburkanlah aku dan selipkan surat jaminan ini di tanganku. Surat ini akan menjadi bukti bahwa aku adalah seorang muslim.”

Setelah berwasiat demikian, ia mengucapkan dua kalimah syahadat dan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mereka memandikan mayat Simeon, menshalatkannya dan menguburkannya dengan surat jaminan di tangannya. Di malam harinya Hasan berbaring sambil merenungi apa yang telah di lakukannya itu. “Bagaimana aku dapat menolong seseorang yang sedang tenggelam sedang aku sendiri dalam keadaan yang serupa. Aku sendiri tidak dapat menentukan nasibku, tetapi mengapa aku berani memastikan apa yang akan dilakukan oleh Allah ?”

Dalam keadaan memikirkan hal itu, Hasan tertidur. Ia bermimpi bertemu dengan Simeon, wajahnya cerah dan bercahaya seperti sebuah pelita, dikepalanya ada sebuah mahkota. Ia memakai sebuah jubah yang indah dan sedang berjalan-jalan di taman syurga.

“Bagaimana keadaanmu Simeon ?” Tanya Hasan kepadanya.

“Mengapakah engkau bertanya padahal kau menyaksikan sendiri ? Allah Yang Maha besar dengan segala kemurahan-Nya telah menghampirkan diriku kepada-Nya dan telah memperlihatkan wajah-Nya kepadaku. Pemberian yang dilimpahkan-Nya kepadaku melebihi segala-galanya. Engkau telah memberiku surat jaminan, terimalah kembali surat jaminan ini karena aku tidak memerlukannya lagi,” jawab Simeon.

Ketika Hasan terbangun ia mendapati surat itu telah berada di tangannya. Hasan berseru, “Ya Allah, aku menyadari bahwa segala sesuatu Engkau lakukan adalah tanpa sebab kecuali karena kemurahan-Mu semata. Siapakah yang akan tersesat di pintu-Mu ? Engkau telah mengizinkan seseorang yang telah menyembah api selama tujuh puluh tahun lamanya untuk menghampiri-Mu, semata-mata karena sebuah ucapan. Betapakah Engkau akan menolak seseorang yang telah beriman selama tujuh puluh tahun ?”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s